Terkadang tidak semua yang kita ingin kan dikabulkan Tuhan. Karena memang Tuhan lebih tahu kebutuhan kita daripada hanya sekedar keinginan. Terkadang, kita sangat sangat ingin agar Tuhan mengabulkan keinginan yang sangat kita ingin. Tapi tetaplah Tuhan yang Maha Tahu, setiap hakikat dari permintaan-permintaan kita.
Bagi yang jiwanya berpenyakit, ketika Tuhan belum berkenan mengabulkan do'a-do'a tersebut, dia akan marah kepada Tuhan, dia akan merasa kecewa dan menganggap Tuhan tengah menghinakannya (seperti yang terkutip dalam Al Quran). Namun, ketika Tuhan mengabulkan permohonannya, maka dia akan menjadi sombong. Dan merasa dia dimenangkan. Padahal bisa jadi hal tersebut adalah ujian keimananya.
Terkadang berat sekali menunggu agar do'a-do'a itu dikabulkan. Tapi lagi-lagi, manusia itu hanyalah makhluk dhoif. Yang tampak dihadapannya hanya sekedar apa yang tampak. Tentulah hanya Tuhan Yang Maha Tahu, yang mengetahui kepantasan dan kesanggupan seorang hamba ketika do'a-do'a itu ketika di kabulkan.
Bagi yang sedang menanti jawaban Tuhan atas do'a-do'a yang dipanjatkan, maka bersabarlah. Tak ada hal yang dilakukan selain bersabar sambil tetap melakukan kebaikan-kebaikan. Tuhan akan terus memantau kita, melihat seberapa besar kesabaran kita, keyakinan kita, dan kesungguhan kita dalam berharap pada-Nya. Sungguh, semua hanya masalah waktu. Dan apapun yang kemudian hadir dalam hari-hari kita, itulah takdir terbaik yang harus di syukuri. Karena Tuhan tidak akan pernah mendzolimi hamba-hamba-Nya. Dan Tuhan paling tahu yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya.
So, jangan menyerah...
Flamboyan, 2012
Welcome to Matahari Ilmu
Jika hidup itu mengajarkanmu banyak hal, maka tuliskanlah sebagai sebuah tinta sejarah yang penuh hikmah....
Wednesday, October 24, 2012
Saturday, October 20, 2012
Fenomena
Baru kusadari ternyata mencari pekerjaan di Indonesia bagi sebagian lulusan perguruan tinggi tidaklah mudah. Pendidikan di sekolah maupun di kampus lebih menekankan pada hal teoritis, padahal yang diharapkan sekarang untuk menghadapi tantangan zaman adalah sesuatu yang lebih bersifat aplikatif.
Aku pribadi lharus lebih bersyukur, karena dulu masuk ke universitas keguruan yang memang arahan ke depannya lebih jelas, yakni menjadi seorang guru. Namun, ada beberapa pula temam lain yang "membelot" kemudian bekerja di bank, perusahaan asuransi, dll sebagainya. Kadang kalo dipikir-pikir, pekerjaan mereka sama sekali tidak nyambung dengan ilmu yang mereka cari sewaktu di universitas dulu. Tapi bagaimanapun, kalo ingin mencari benang merahnya, maka akan tetap bertemu juga.
Ada beberapa teman yang saat ini masih kesulitan menemukan pekerjaan. Setelah sekian lama melanglang buana kesana kemari mencari pekerjaan, namun belum ada satu pun yang nyangkut. Salah satu penyebabnya adalah0 karena jurusannya yang langka, maksudnya kalo di Indonesia, jurusan yang spesifik kadang kurang mendapatkan tepat. Ujung-ujungnya, dia akan "membelot" juga, mencari pekerjaan yang sebenarnya diluar bidang ilmu yang di kuasainya. Dan lagi-lagi kalo tidak bisa menemukan benang merahnya, kasihan sekali sudah berjuang keras selama lebih kurang lima tahun di bangku kuliah dan bergelut dengan bidang keilmuan tersebut, tapi setelah tamat kuliah, ilmunya menjadi wasaalam.
Permasalahan ini tentu tidak menimpa satu atau dua orang mahasiswa saja, tapi mungkin ratusan bahkan ribuan lulusan universitas. Hal ini terlihat dari tidak pernah sepinya even job fair yang sering diselengggarakan. Job fair selalu disesaki oleh para pencari kerja, dan apapun itu bentuk even penerimaan pegawai/ pekerja, maka dipastikan even itu masti akan ramai. Terkadang sedih melihat, anak-anak muda yang seharusnya lebih bisa produktif dengan usia muda mereka. Kadang penantian yang tak kunjung datang dalam menemukan pekerjaan membuat sebagaian mereka menjadi apatis, dan mudah meyerah. Mungkin sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian khusus pada lulusan-lulusann universitas, dan membenahi sistem dan praktek mendidikan yang lebih bersifat aplikatif. Sehingga para lulusan universitas, tidak lagi bergantung pada perusahan-perusahana, atau "menyebar jaring" kesana kemari, tapi bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.
Dan ini juga menjadi Pe Er untuk diriku sendiri.
Fenomena.
Flamboyan, Oktober 2012
Aku pribadi lharus lebih bersyukur, karena dulu masuk ke universitas keguruan yang memang arahan ke depannya lebih jelas, yakni menjadi seorang guru. Namun, ada beberapa pula temam lain yang "membelot" kemudian bekerja di bank, perusahaan asuransi, dll sebagainya. Kadang kalo dipikir-pikir, pekerjaan mereka sama sekali tidak nyambung dengan ilmu yang mereka cari sewaktu di universitas dulu. Tapi bagaimanapun, kalo ingin mencari benang merahnya, maka akan tetap bertemu juga.
Ada beberapa teman yang saat ini masih kesulitan menemukan pekerjaan. Setelah sekian lama melanglang buana kesana kemari mencari pekerjaan, namun belum ada satu pun yang nyangkut. Salah satu penyebabnya adalah0 karena jurusannya yang langka, maksudnya kalo di Indonesia, jurusan yang spesifik kadang kurang mendapatkan tepat. Ujung-ujungnya, dia akan "membelot" juga, mencari pekerjaan yang sebenarnya diluar bidang ilmu yang di kuasainya. Dan lagi-lagi kalo tidak bisa menemukan benang merahnya, kasihan sekali sudah berjuang keras selama lebih kurang lima tahun di bangku kuliah dan bergelut dengan bidang keilmuan tersebut, tapi setelah tamat kuliah, ilmunya menjadi wasaalam.
Permasalahan ini tentu tidak menimpa satu atau dua orang mahasiswa saja, tapi mungkin ratusan bahkan ribuan lulusan universitas. Hal ini terlihat dari tidak pernah sepinya even job fair yang sering diselengggarakan. Job fair selalu disesaki oleh para pencari kerja, dan apapun itu bentuk even penerimaan pegawai/ pekerja, maka dipastikan even itu masti akan ramai. Terkadang sedih melihat, anak-anak muda yang seharusnya lebih bisa produktif dengan usia muda mereka. Kadang penantian yang tak kunjung datang dalam menemukan pekerjaan membuat sebagaian mereka menjadi apatis, dan mudah meyerah. Mungkin sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian khusus pada lulusan-lulusann universitas, dan membenahi sistem dan praktek mendidikan yang lebih bersifat aplikatif. Sehingga para lulusan universitas, tidak lagi bergantung pada perusahan-perusahana, atau "menyebar jaring" kesana kemari, tapi bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.
Dan ini juga menjadi Pe Er untuk diriku sendiri.
Fenomena.
Flamboyan, Oktober 2012
Sunday, September 16, 2012
Aku adalah kelembutan...yang berdiri tegak menantang matahari,
meski peluh berkejar-kejaran dengan kerasnya kehidupan,
aku akan tetap bertahan,
melewati setiap lembaran waktu,
yang kutulis dengan caraku yang damai,
tenang, tak terbaca...
Aku adalah kelembutan,
yang akan bangkit,
menghadapi setiap rintangan....
Tuesday, September 04, 2012
Galau is Really Something
Galau..itu lah yang kurasakan malam ini. Galau akan ini, galau akan itu, dan galau akan semuanya. Yah, galau yang bertambah-tambah galau, karena galau-nya ditambah-tambah...Hmmm....
Galau akan mozaik-mozaik hidup yang terserak. Galau kemana kaki kan melangkah setelah ini, galau dalam memungut kepingan-kepingan mozaik kehidupan. Galau ketika mozaik-mozaik itu belum tertata sesuai dengan keinginan, galau ketika mozaik-mozaik itu tak kunjung ditemukan menjadi sebuah potongan puzzle yang lengkap.. dan galau menjadi raja.
Masih layakkah, manusia seusiaku merasa galau? Masih pantaskah, seorang yang harusnya bijak dalam bertindak dihimpit rasa galau yang tak jelas...?
Ah, ingin kubuang galau dalam sepi, ingin kuhancurkan galau dalam mesin-mesin waktu yang berlalu, tapi malam ini masih melukiskan galau dalam bintang-bintang langit kelam.
Galau, you hurt me so well..
Flamboyan, 2012
Galau akan mozaik-mozaik hidup yang terserak. Galau kemana kaki kan melangkah setelah ini, galau dalam memungut kepingan-kepingan mozaik kehidupan. Galau ketika mozaik-mozaik itu belum tertata sesuai dengan keinginan, galau ketika mozaik-mozaik itu tak kunjung ditemukan menjadi sebuah potongan puzzle yang lengkap.. dan galau menjadi raja.
Masih layakkah, manusia seusiaku merasa galau? Masih pantaskah, seorang yang harusnya bijak dalam bertindak dihimpit rasa galau yang tak jelas...?
Ah, ingin kubuang galau dalam sepi, ingin kuhancurkan galau dalam mesin-mesin waktu yang berlalu, tapi malam ini masih melukiskan galau dalam bintang-bintang langit kelam.
Galau, you hurt me so well..
Flamboyan, 2012
Nikmat Sebuah Jempol
Kupandangi jempol kanan ku kini yang tebalut perban putih. Ada dua stick kecil menghadang di depan dan dibelakang. Dan seperti itulah kini jempolku. Dua bulan sudah ia tidak mampu menjalani fungsinya dengan baik. Digerakan sakit. Dibengkokkan sakit. Diluruskan juga sakit. Terkadang menjadi serba salah. Ke tukang urut sudah kujalani, kedokter and di rontgen pun sudah. Tapi tetap saja memang kesembuhan itu datang-Nya hanya dari Allah.
Entah apa sebabnya, lebih kurang dua bulan yang lalu kudapati tangan ku especially bagian jempolku terasa sakit. Dan itu terus berulang-ulang setiap bangun pagi. Aku tak pernah mengerti apa sebenarnya yang terjadi ketika aku tidur. Yang jelas kini jempol kanan ku harus diberi penyangga agar berdiri lurus.
Kini aku baru merasakan, betapa luar biasanya nikmat sebuah jempol. Allah berikan aku sepuluh nikmat jari-jari tangan, dan kini satu saja nikmat jari itu di cabut, aktivitasku tidak bisa berjalan normal.Aku kesulitan memegang peda, memacu gas motor, memegang sendok, membuka kunci gembok, mengingkat rambut, dan lain-lainnya. Subhanallah... jempolku... betapa besar fungsimu, tapi aku yang bodoh ini baru menyadari ketika nikmatmu dikurangi...
Hmm.... kini aku memandangi jempol kananku dengan perasaan sedih. Maaf jempol, karena tidak merawatmu dengan baik. Aku berharap kau bisa kembali seperti semula. Semoga perban-perban dan penyangga yang saat ini menopang mu bisa membantu mu berfungsi seperti semula...
Fabiayyi ala irabbikuma tikadziban....
Flamboyan, 20:52
Entah apa sebabnya, lebih kurang dua bulan yang lalu kudapati tangan ku especially bagian jempolku terasa sakit. Dan itu terus berulang-ulang setiap bangun pagi. Aku tak pernah mengerti apa sebenarnya yang terjadi ketika aku tidur. Yang jelas kini jempol kanan ku harus diberi penyangga agar berdiri lurus.
Kini aku baru merasakan, betapa luar biasanya nikmat sebuah jempol. Allah berikan aku sepuluh nikmat jari-jari tangan, dan kini satu saja nikmat jari itu di cabut, aktivitasku tidak bisa berjalan normal.Aku kesulitan memegang peda, memacu gas motor, memegang sendok, membuka kunci gembok, mengingkat rambut, dan lain-lainnya. Subhanallah... jempolku... betapa besar fungsimu, tapi aku yang bodoh ini baru menyadari ketika nikmatmu dikurangi...
Hmm.... kini aku memandangi jempol kananku dengan perasaan sedih. Maaf jempol, karena tidak merawatmu dengan baik. Aku berharap kau bisa kembali seperti semula. Semoga perban-perban dan penyangga yang saat ini menopang mu bisa membantu mu berfungsi seperti semula...
Fabiayyi ala irabbikuma tikadziban....
Flamboyan, 20:52
Subscribe to:
Posts (Atom)