Sol sepatu....
Sol sepatu....
Suara tukang sol sepatu memecah kesunyian di siang yang sendu ini.Bergegas aku berlari menyusuri tangga dan memanggil sang pujaan yang telah lama dinanti.^_^... Ketika pintu gerbang kubuka, terlihatlah sosok laki-laki dengan sepeda dan kotak kecil tergangtung dibelakangnya. Kuserahkan dua pasang sepatu yang akan "diobati". Sesaat kemudian si Bapak sibuk memeriksa kondisi pasiennya sambil menanyakan beberapa pertanyaan padaku. Yah mungkin sekalian untuk mendiagnosa penyakit yang ada... (dokter kale...)
Saat si Bapak beraksi, akupun mengamati sambil duduk disebelahnya. Tangan itu begitu cekatan. Sambil menunggu, aku pun berbincang-bincang. Yah...tak ada salahnya aku menggali ilmu dari Profesor kehidupan yang satu ini. Mana tau dia memegang kunci untuk membuka puzzle kehidupanku.
Ternyata si Bapak sudah 20 tahun menjadi seorang tukang sol sepatu. Semenjak dia muda (belum menikah), hingga sudah beranak 2, dia tetap istiqomah dengan pekerjaannya yang satu ini. Akupun bertanya, "apa Bapak tidak mau mencoba usaha lain?" si Bapak menjawab "mencari pekerjaan itu tidak mudah.., menjadi kuli bangunan saja sekarang ini juga sulit..nunggu proyek datang bisa berbulan-bulan lamanya. Lagian keahlian yang saya miliki cuma ini."
Trus aku bertanya lagi "apa bapak tidak mencoba berdagang?"Si Bapak pun menjawab..Yah berdagang pun ga' mudah mba',dan kalo mau kesawah pun sekarang sulit, kerjanya berat tapi hasilnya sedikit, nunggu-nya lama lagi..."
Aku diam sejenak...aku berpikir, ternyata ada beberapa kata negative seperti, "ga mudah,dan "sulit..." yang kutemukan. Dan sepertinya professor yang satu ini termasuk tipekal orang yang apatis dan plagmatis.. Yah nrimo gitu deh..
Hohoho... that's the point...
Ketika kita hanya terpaku dengan paradigma "sulit", "susah", "tidak mudah", maka dialam bawah sadar kita tentu akan terprogram kata-kata negative tersebut yang kemudian mempengaruhi tindakan kita. Ketakutan-ketakutan akan menemui kesulitan membuat kita juga takut untuk berubah. Sikap nrimo bukan bearti pasrah dan menerima apa adanya, tapi kita juga harus ada usaha untuk berubah. Karena perubahan itu tidak datang dengan sendirinya tapi memang ada usaha untuk merubah. Dan bisa jadi Bapak tersebut telah terjebak selama 20 tahun dengan ketakutan-ketakutannya untuk mencoba sesuatu yang baru.. Dan akhirnya dia tetap melakoni pekerjaan menjadi tukang sol sepatu hingga bertahun-tahun lamanya... Yah..bisa jadi alasannya bukan seperti itu juga..
Tapi perjuangan hidupnya patut di acungi jempol... Setiap hari si Bapak harus mengayuh sepeda berkilo-kilo meter. Untuk sampai disini saja, dari tempat tinggal beliau di Bantul, butuh waktu 2 jam lamanya. Dan ternyata kedua anaknya masih bisa mengenyam bangku sekolah walaupun hanya sampai SMA.
Tak terasa kami sudah ngobrol ngalor ngidul,dan sepatupun selesai diobati. Si Bapak kemudian mematok harga 15 ribu untuk dua pasang sepatu. Setelah melakukan transaksi, kami pun melanjutkan aktivitas kami masing-masing.
Saat aku sampai didepan kamar, seorang teman menanyakan berapa ongkos yang aku keluarkan. Dan diapun mencak-mencak saat tau bahwa aku telah membayar mahal untuk biaya pengobatan sepatu... "mbok ya ditawar to mba' biar tukang sol sepatunya ga' seenaknya meletakkan harga..." ucapnya dengan nada agak kesal..
Aku hanya mengatakan..."yah..., sama tukang sol sepatu masa mesti ditawar-tawar, malu donk.."
Lagian uang yang kukeluarkan tidak akan sebanding dengan ilmu tentang hidup dan kehidupan yang telah di share oleh tukang sol sepatu tadi...Yah ilmu ini tak akan pernah aku jumpai dibangku kuliah...
Welcome to Matahari Ilmu
Jika hidup itu mengajarkanmu banyak hal, maka tuliskanlah sebagai sebuah tinta sejarah yang penuh hikmah....
Wednesday, May 12, 2010
Monday, May 10, 2010
Birokrasi
Ribet. Itu kesan yang muncul saat berurusan dengan masalah birokrasi. Ga' usah melihat jauh-jauh, di kampus pun dengan mudah aku menemuinya.Terkadang aku tak habis pikir kenapa urusan yang sangat sepele harus dipersulit sedemikian rupa.
Seperti contoh kasus yang kualami baru-baru ini. Dalam rangka menyelesaikan salah satu tugas mata kuliah, aku harus membuat kuesioner. Kebetulan objek yang kupilih adalah librarian yang ada di kampus.
Setelah melakukan negosiasi dengan pihak yang bertanggung jawab, kuesioner itu pun dijanjikan bisa rampung dan diambil esok siang. Tapi sayang karena berenturan dengan jadwal kuliah,aku agak molor (1-2 jam) menjemput kuesionernya dan aku tidak bisa lagi menemui orang yang bersangkutan karena dia sudah keburu pulang.
Maka aku kembali keesokan harinya, dengan harapan angket sudah sampai ditangan dan segera bisa diolah. Tapi alangkah kagetnya, ternyata angket yang kuserahkan beberapa hari yang lalu belum bisa disebarkan dengan alasan yang amat sangat sepele, yaitu tidak adanya pena untuk mengisi angket tersebut. Agak lama aku bisa mencerna setiap kata yang mampir di otakku...., kata-kata yang disampaikan berputar-putar hingga akhirnya aku mampu mencapai satu titik. Aneh...kenapa waktu yang dijanjikan sebentar menjadi membutuhkan waktu berhari-hari... Dan ternyata masalahnya hanya karena pena. Yah...pena. Oh my God...
Aku diminta untuk membelikan pena sebanyak angket yang disebarkan, katanya sih sebagai formalitas atau apalah...
Aku pun segera membelikan pena yang diminta sambil terus berpikir... Memangnya berapa banyak sih tinta yang akan habis hanya untuk men-check list 30 pertayaan yang ada dikuesioner tersebut? Apakah terlalu kecilkah gaji seorang pegawai pustaka hingga tidak mampu membeli sebatang pena? Apakah kampus memang harus mempersulit mahasiswanya dengan sedemikian rupa hanya untuk masalah yang sesepele ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menari-nari diotakku. Walaupun sisi lain hati-ku mengatakan, " sudahlah..cuma kasih pena saja kok dipermasalahkan anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena telah dibantu...". Sebenarnya bukan masalah membelikan penanya, tapi alasan karena pena itulah yang tidak masuk diakalku.
Tapi yah..sudahlah
Masih untung mereka cuma minta dibelikan pena..
Coba kalo mereka sampai minta dibelikan tisu untuk mengelap keringat saat mengisi kuesioner,
atau menyediakan makan dan minum karena energi mereka terkuras saat mengisi kuesioner...
atau minta biaya pijat untuk tangan yang lelah karena mengisi kuesioner
atau minta imbalan jasa karena waktu mereka habis terbuang hanya untuk mengisi kuesionerku...dan lain-lain sebagainya..Wuah bisa gawat!!!!!!!!!!!!!!!!!
Pulangkan saja aku kerumah orangtuaku....
Seperti contoh kasus yang kualami baru-baru ini. Dalam rangka menyelesaikan salah satu tugas mata kuliah, aku harus membuat kuesioner. Kebetulan objek yang kupilih adalah librarian yang ada di kampus.
Setelah melakukan negosiasi dengan pihak yang bertanggung jawab, kuesioner itu pun dijanjikan bisa rampung dan diambil esok siang. Tapi sayang karena berenturan dengan jadwal kuliah,aku agak molor (1-2 jam) menjemput kuesionernya dan aku tidak bisa lagi menemui orang yang bersangkutan karena dia sudah keburu pulang.
Maka aku kembali keesokan harinya, dengan harapan angket sudah sampai ditangan dan segera bisa diolah. Tapi alangkah kagetnya, ternyata angket yang kuserahkan beberapa hari yang lalu belum bisa disebarkan dengan alasan yang amat sangat sepele, yaitu tidak adanya pena untuk mengisi angket tersebut. Agak lama aku bisa mencerna setiap kata yang mampir di otakku...., kata-kata yang disampaikan berputar-putar hingga akhirnya aku mampu mencapai satu titik. Aneh...kenapa waktu yang dijanjikan sebentar menjadi membutuhkan waktu berhari-hari... Dan ternyata masalahnya hanya karena pena. Yah...pena. Oh my God...
Aku diminta untuk membelikan pena sebanyak angket yang disebarkan, katanya sih sebagai formalitas atau apalah...
Aku pun segera membelikan pena yang diminta sambil terus berpikir... Memangnya berapa banyak sih tinta yang akan habis hanya untuk men-check list 30 pertayaan yang ada dikuesioner tersebut? Apakah terlalu kecilkah gaji seorang pegawai pustaka hingga tidak mampu membeli sebatang pena? Apakah kampus memang harus mempersulit mahasiswanya dengan sedemikian rupa hanya untuk masalah yang sesepele ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menari-nari diotakku. Walaupun sisi lain hati-ku mengatakan, " sudahlah..cuma kasih pena saja kok dipermasalahkan anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena telah dibantu...". Sebenarnya bukan masalah membelikan penanya, tapi alasan karena pena itulah yang tidak masuk diakalku.
Tapi yah..sudahlah
Masih untung mereka cuma minta dibelikan pena..
Coba kalo mereka sampai minta dibelikan tisu untuk mengelap keringat saat mengisi kuesioner,
atau menyediakan makan dan minum karena energi mereka terkuras saat mengisi kuesioner...
atau minta biaya pijat untuk tangan yang lelah karena mengisi kuesioner
atau minta imbalan jasa karena waktu mereka habis terbuang hanya untuk mengisi kuesionerku...dan lain-lain sebagainya..Wuah bisa gawat!!!!!!!!!!!!!!!!!
Pulangkan saja aku kerumah orangtuaku....
Ungkapan Rasa dari Seorang Biasa

Aku rindu senyum mereka.Rindu dengan tatapan-tatapan bersahabat mereka, walaupun beberapa tatapan sinis juga hadir. Disaat keberadaan kami dianggap hanya sebagai proyek “penggembira” atau kedatangan kami hanya dianggap sebagai penguras lembar-lembaran rupiah, hanya mereka yang membuat kami merasa berarti. Mereka hadir untuk menghapus peluh dan kesah kami atas kondisi yang sangat tidak membuat nyaman. Mereka ada untuk membuat kami lupa sejenak akan semua konflik yang berkecamuk.
Merekalah anak-anak yang lahir bukan dari rahim kami, dan ditubuh ini tak pernah mengalir aliran darah yang sama. Tapi rasa cinta itu hadir. Cinta yang melahirkan rasa sayang, perhatian, dan juga amarah. Aku ingat betapa rasa hormat dan segan mereka, membuat langkah kaki kami masih bisa terus berderap. Membuat tubuh kami masih bisa berdiri dengan gagah di depan puluhan mata. Membuat kami terus menjadi matahari ilmu yang tak pernah redup bagi mereka.
Aku rindu dengan masa-masa itu. Rindu ketika melihat ulah mereka yang terkadang menggelikan. Rindu akan gurauan yang terkadang melahirkan rona merah di pipi kami. Rindu akan lantunan lagu yang mereka petikkan khusus dari gitar yang berdawai kasih. Rindu akan semua yang terjadi, baik yang membuat kami bahagia maupun luka…
Pertemuan dan kebersamaan yang singkat itu, mungkin tak membekas atau bahkan mungkin hilang dari ingatan mereka. Tapi bagi kami, masa-masa itu tetap akan melahirkan sejuta kenangan yang tak akan pernah terhapus oleh waktu.
Terima kasih untuk semua yang terlibat dalam sejarah ini, dan terima kasih untuk semua siswa yang telah mengajarkanku bagaimana menjadi seorang guru. Terima kasih, karena disebagian hatiku masih terus tersimpan rasa rindu untuk kalian. Walau kelak, ketika kita bertemu kembali, semua akan terasa sangat berbeda…tapi yakinlah..kenangan itu akan terus abadi.
Poligami

Wanita mana yang ingin dipoligami? Mungkin jawabannya tidak ada karena sunatullahnya tidak seorang wanita pun yang ingin kasih dan sayangnya dibagi oleh sang suami. Walaupun ada yang ikhlas membagi suaminya untuk wanita lain, tetap saja di lubuk hati yang terdalam tentu amat sangat berat menjalaninya.
Saya ingat salah satu dialog dalam film Ketika Cinta Bertasbih I, dimana di ending film tersirat sebuah pesan yang cukup penting, khususnya bagi wanita (menurut pendapat saya). Disana diceritakan ketika Furqon beserta keluarganya datang menemui keluarga Anna Al Thafunnisa dalam rangka mengkhitbah, pihak laki-laki mempersilahkan calon mempelai wanita untuk mengajukan mahar yang diinginkan. Sang wanitapun tidak meminta macam-macam, hanya mengajukan dua syarat yang kelak menjadi penentu syahnya akad nikah. Syarat pertama, setelah menikah si wanita ingin tetap berada dilingkungan pesantren. Dan syarat kedua, selama dia masih hidup dan masih mampu menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri maka dia tidak mengizinkan suaminya menikah lagi.
Syarat pertama bukanlah suatu masalah bagi Furqon, tapi syarat kedua agak sulit dipenuhi karena bukankah itu berarti Anna mengharamkan poligami?. Dengan cerdas Anna menjelaskan bahwa dia tidak pernah mengharamkan poligami dan mempersilahkan sang calon suami untuk berpoligami tapi Anna tidak bersedia menjadi salah satu wanita yang terlibat didalamnya. Dialogikan seperti ini, ketika kelak menikah maka Anna melarang suaminya untuk memakan jengkol karena dia tidak suka dengan baunya, bukan berarti jengkol menjadi haram hukumnya. Syarat yang diajukan oleh Anna ini bukan untuk mempersulit tetapi atas dasar faedah dan manfaat untuk dirinya dan juga anak-anaknya kelak. Dan ternyata hal ini dibolehkan dalam Islam.
Dialog-dialog cerdas tersebut tak terlepas dari kecerdasan penulis novelnya yaitu Habiburrahman El Shirazy (Kang Abik). Disini saya melihat Kang Abik tidak hanya memandang poligami dari kacamata laki-laki tetapi mencoba lebih objektif melihat dari sudut pandang seorang wanita. Islam memperbolehkan poligami dengan syarat adil. Tapi Rasulullah, manusia yang paling adil didunia sekalipun dan yang merasa sudah berbuat adil dari segi manusiawinya, ternyata masih saja dicemburui oleh istri-istrinya. Namun tentu saja kecemburuan Ummul Mu’minin ini karena bentuk kecintaannya dan ingin mempersembahkan yang terbaik untuk sang Habibullah.
Terlepas dari setuju maupun tidak setuju, yang jelas setiap wanita pasti ingin seperti Fatimah binti Muhammad yang selama hidupnya tidak pernah dimadu oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib, atau seperti Siti Khadijah yang selama hidupnya tidak pernah di madu oleh Rasulullah SAW. Wallahualam.
Meteor Garden

Kita tidak akan membahas film Meteor Garden yang dibintangi oleh group music F4 tapi lebih kepada berita yang baru-baru ini menggemparkan negeri kita. Yap… ada beberapa rumah di daerah Kebon Sawit, Jakarta Timur, kejatuhan meteor. Benda antariksa yang konon kabarnya sebesar kelapa tersebut ternyata memiliki kekuatan yang cukup dahsyat. Hal ini bisa dilihat dari rusak parahnya beberapa rumah akibat kejatuhan benda luar angkasa ini.
Memang bulan April-Mei merupakan musim hujan meteor. Ini merupakan fenomena alam yang biasa terjadi dan tidak perlu ditakuti. Maka jika dalam beberapa malam ini kita bisa menyaksikan bintang jatuh, bisa jadi kita termasuk salah satu orang yang beruntung (so let’s make a wish...hahaha..syirik ya^_~). Hanya saja yang agak mengherankan, kenapa partikel meteorid tersebut bisa sampai kebumi? Padahal idealnya, ketika si Meteor melakukan PDKT, maka bumi akan melakukan defence dengan lapisan ozone-nya. Jadi kalo si meteor mencoba masuk, maka dia akan langsung dilumatkan oleh lapisan ozon. Nah, jika akhirnya meteor berhasil menginjakkan kaki ke bumi, maka akan timbul pertanyaan, ada apa dengan lapisan ozon kita? Kenapa dia tidak bisa lagi memberikan perlindungan?
Yah....mungkin sudah jadi rahasia umum, bahwa memang ada masalah yang amat serius dengan lapisan ozon. Penyebabnya siapa lagi kalo bukan manusia, salah satunya adalah kita (ngaku aja deh...). Polusi yang tidak bisa dibendung lama kelamaan akan merusak tatanan lingkungan yang ada. Dan jika tidak dilakukan pencegahan segera, yah bisa jadi kiamat hanya tinggal menghitung hari, menit bahkan detik.
Ada hal yang sangat menggelitik. Rumah yang kejatuhan meteor tadi, dikunjungi oleh banyak warga masyarakat. Mulai yang ingin tahu secara langsung kronologisnya sampai yang ingin mencari serpihan meteor yang tertinggal. Buat apakah? Ternyata..serpihan tadi gunanya adalah untuk disimpan and kemudian dijadikan jimat.( Oalah...aneh-aneh wae... )
Hmmm....padahal meskinya dengan kejadian ini manusia harus segera bertobat dan melakukan perbaikan. Karena we never know, who next? Bisa jadi besok-besok rumah kita yang ketiban meteor. Tapi kenyataannya seberapapun peringatan ALLAH (salah satunya melalui peristiwa jatuhnya meteor ini) terkadang tidak membuat manusia mendekat pada Tuhannya, malah lari bahkan sampai berbuat syirik. Naudzubillah. Semoga kita bisa mengambil ibrah dari setiap kejadian yang ada. Amin.
Subscribe to:
Posts (Atom)